Lahirnya Cara Baru Memahami Masa Lalu; Romantisisme, Historisisme, dan Perubahan Historiografi Modern
Oleh: Muhammad Asyaf Gemarikza
Bayangkan ketika sejarah diharuskan mengikuti jalan yang seragam. Seperti salah satu kecenderungan dalam historiografi era Pencerahan ialah melihat sejarah sebagai proses perkembangan universal, di mana masyarakat bergerak dari tahap yang dianggap sederhana atau “terbelakang” menuju rasionalitas dan “keberadaban”. Sejarah dianggap memiliki formula universal yang dapat mengukur masyarakat yang berbeda dengan pola yang sama. Sehingga perbedaan, bangsa dan masyarakat dianggap sebagai variasi dari sebuah perjalanan peradaban yang universal.
Pada abad 18 akhir dan 19 awal, muncul kecenderungan intelektual baru yang kemudian dikenal sebagai romantisisme. Cara pandang terhadap sejarah yang demikian kembali diperdebatkan. Para kaum romantik mulai memberikan perhatian lebih besar pada hal-hal yang sebelumnya mudah diabaikan, bahwa setiap masyarakat dan era memiliki keunikan tersendiri dalam karakteristiknya.
Paradigma ini mengubah salah satu pertanyaan mendasar dalam penulisan sejarah, apakah masa lalu harus dijelaskan berdasarkan hukum-hukum universal, atau justru dipahami berdasarkan kekhasan karakteristik setiap zaman dan masyarakat? Dari paradigma inilah romantisisme turut membuka jalan bagi cara baru dalam memahami sejarah.
Salah satu titik perubahan penting dalan memandang sejarah bermula dari gagasan sederhana bahwa, tidak semua hal harus dipahami dengan ukuran yang sama. Gagasan ini memiliki akar dari pemikiran Gottfried Wilhelm Leibniz. Ia menggambarkan alam semesta terdiri dari kumpulan monad atau individu yang memiliki keunikan dan berkembang dengan sifatnya masing-masing. Maka jika setiap sesuatu memiliki karakteristik dan perkembangan yang unik, maka manusia dan masyarakat tidak dapat begitu saja dipahami dengan satu ukuran universal yang berlaku untuk semuanya.
Pemikiran tersebut kemudian dikembangkan Johann Gottfried Herder. Bagi Herder, sejarah bukanlah perjalanan manusia yang bergerak mengikuti satu jalur yang sama. Setiap bangsa tumbuh dalam lingkungan, tradisi, bahasa, dan pengalaman sejarahnya sendiri. Karena itu, kebudayaan suatu masyarakat tidak dapat dinilai berdasarkan standar masyarakat lain. Seorang sejarawan perlu memahami suatu masyarakat dari aspek-aspek yang membentuknya. Di sinilah muncul perubahan dalam cara melihat sejarah, perbedaan merupakan bagian dari kenyataan historis itu sendiri.
Gagasan mengenai keunikan tersebut kemudian berkembang dalam tradisi intelektual Jerman. Individualitas tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, tetapi juga dapat dilekatkan pada kelompok dan bangsa. Setiap individu maupun masyarakat memiliki kemungkinan berkembang dengan caranya sendiri. Dengan itu sejarah
memperlihatkan banyak bentuk kehidupan yang berbeda. Masa lalu menjadi sesuatu yang
harus dipahami dalam keberagamannya.
Gagasan tentang individualitas tersebut kemudian berkembang lagi. Individualitas tidak lagi hanya dipahami sebagai ciri khas seseorang, tetapi juga dapat digunakan untuk memahami suatu bangsa dan kebudayaan. Pemikir seperti Goethe, Schiller, dan kemudian Wilhelm von Humboldt menekankan bahwa manusia tidak hadir sebagai satu kesatuan yang seragam, melainkan berkembang melalui keberagaman individu. Bagi Herder, setiap bangsa memiliki karakter dan nilai yang tidak bisa ditempatkan dalam tingkatan yang lebih tinggi atau lebih rendah dari bangsa lainnya. Dengan demikian, sejarah tidak lagi hanya memperlihatkan satu pola perkembangan manusia, tetapi juga keragaman cara manusia membentuk kehidupan dan kebudayaannya. Pandangan terhadap keberagaman dan kekhasan historis ini kemudian menjadi salah satu dasar bagi berkembangnya historisisme jerman, yang kemudian melihat kehidupan manusia sebagai sesuatu yang harus dipahami dalam konteks sejarahnya
Gagasan tentang keunikan setiap masyarakat dan zamannya, tiidak berhenti sebagai gagasan filosofis. Leopold von Ranke memberikan perhatian terhadap karakteristik masa lalu dan mengembangkannya menjadi cara baru dalam melakukan penelitian sejarah. Ranke menolak kecenderungan untuk terlebih dahulu menentukan pola umum lalu mencari peristiwa sejarah yang sesuai dengan pola tersebut. Menurutnya, sejarah harus berangkat dari pengamatan terhadap peristiwa dan manusia dalam kondisi sejarahnya masing-masing.
Karena itu, penelitian sejarah menuntut perhatian yang serius terhadap sumber. Ranke menggunakan berbagai dokumen seperti surat, catatan harian, laporan diplomatik, dan kesaksian sezaman untuk merekonstruksi peristiwa sejarah. Namun, tujuan penelitian tersebut bukan sekadar mengumpulkan fakta. Peristiwa yang partikular tetap harus dipahami dalam hubungan dan konteks yang lebih luas. Sehingga sejarah bergerak dari pemahaman terhadap hal-hal yang khusus menuju pemahaman mengenai keterkaitan peristiwa dalam suatu zaman.
Di sinilah pemikiran Ranke menunjukkan hubungan antara historisisme dan perkembangan historiografi modern. Masa lalu tidak dipahami melalui satu hukum universal yang telah ditentukan sebelumnya, tetapi melalui penelitian terhadap pengalaman manusia, sumber-sumbernya, serta konteks keadaan yang membentuknya. Keunikan sejarah tetap dipertahankan, sementara penelitian terhadapnya dilakukan secara kritis dan sistematis.
Perubahan yang dipengaruhi romantisisme dan historisisme pada akhirnya bukan sekadar penolakan terhadap gagasan tentang sejarah universal. Yang berubah adalah cara memahami sejarah itu sendiri. Sejarah tidak lagi dengan mudah ditempatkan dalam satu pola perkembangan yang dianggap berlaku bagi seluruh masyarakat. Perhatian diarahkan kepada pengalaman manusia, keunikan setiap masyarakat, serta kondisi yang membentuknya. Hal ini menjadikan penelitian terhadap sumber dan konteks menjadi semakin penting dalam memahami masa lalu.
Namun, memahami sejarah melalui karakteristik setiap zaman bukan berarti sejarah harus terpecah menjadi kumpulan peristiwa yang berdiri sendiri. Ranke sendiri tetap melihat adanya hubungan yang luas dalam sejarah. Penelitian terhadap hal-hal yang partikular menjadi jalan untuk memahami keterkaitan dalam keseluruhan sejarah. Dengan demikian, salah satu warisan penting romantisisme dan historisisme adalah perubahan cara pandang, sejarah tidak lagi hanya dipandang sebagai perjalanan manusia menuju satu tahapan yang menjadi tujuan universal, tetapi sebagai rangkaian pengalaman manusia dan masyarakat yang beragam, saling berhubungan, dan harus dipahami dalam konteks masing-masing.
Referensi
Iggers, Georg G. The German Conception of History: The National Tradition of Historical Thought from Herder to the Present. Middletown, CT: Wesleyan University Press, 1968.
Stern, Fritz, ed. The Varieties of History: From Voltaire to the Present. New York: Vintage Books, 1973.

Posting Komentar