Al-Mutanabbi, Sang Penyair Masyhur pada Masa Keemasan Islam
Kekhalifahan Dinasti Abbasiyyah
adalah panggung peradaban Islam yang sangat terang di mata para ilmuwan dan
tokoh sejarawan. Di mata para ilmuwan, zaman itu adalah sebuah zaman kemajuan
dan berkembangnya ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Bahkan, di zaman ini
tercipta pusat sains dunia raksasa yg berisikan semua jenis ilmu pengetahuan
yang tak ternilai harganya. Juga, dalam penglihatan para tokoh sejarawan, zaman
Keemasan Islam ini tampil dengan tokoh-tokoh berlian dan permata. Maka dari
itu, zaman ini di kenal dengan julukan "The islamic Golden Age".
Kita mendapati dalam catatan
sejarah, setiap zaman memiliki ciri khas masing-masing yang disebabkan berbagai
macam aspek. Kekhalifahan Abbasiyah adalah zaman di mana munculnya para ahli
sastra dan ahli penyair, yang sangat amat mumpuni dalam bidangnya. Salah satu
penyair yang terkenal dan terhebat adalah al-Mutanabbi.
Al-Mutanabbi lahir di keluarga
sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai penjual air keliling, sehingga ia selalu
dipanggil dengan sebutan Abd al-Saqa’. Ibundanya seorang Hamdzanniyah
yang nama dan profesinya asing sehingga tidak satupun orang mengetahuinya. Akan
tetapi, Al-Mutanabbi tetap memiliki tekad yang kuat dan semangat yang hebat,
yang menjadikan dirinya dikenal sampai zaman ini.
Nama aslinya ialah Abu Thayyib Ahmad
bin Husain bin Murrah bin Abdul Jabbar al-Ju'fi al-Kindi al-Kufi, lahir pada
tahun 915 M/303 H. Al-Ju'fi nama dari kakeknya, Ju'fi bin Sa'ad. Sedangkan
al-Kindi al-Kufi berasal dari nama kampung kelahirannya yg terletak di Kufah
(Irak). Yang menarik, al-Mutanabbi tidak pernah menggunakan nama keluarga atau
nama kampung untuk panggilannya.
Pada masa kecil, al-Mutanabbi
memiliki banyak ambisi sehingga dia dapat menghafal Al-Qur'an dengan kekuatan
hafalan yang ia miliki. Ia memulai menulis sebuah puisi saat masih kecil.
Al-Mutanabbi menggubah puisi pertamanya saat di umur sembilan tahun. Beliau
juga dikenal gigih dalam menuntut ilmu. Ia mempelajari ilmu bahasa Arab dan
syair dari orang-orang suku pedalaman Arab. Menjelang umur 16 tahun, dia hidup
berdampingan dengan Bani Kalb, salah satu suku pedalaman Arab yang waktu itu
menetap di wilayah al-Samawah. Jauhnya wilayah tersebut dari pengaruh
masyarakat luar dan tidak adanya campuran dari orang-orang asing membuat bahasa
Arab yang mereka gunakan terjaga. Bani Kalb salah satu yang disegani oleh kaum
yang lain. Bahkan mereka memiliki pengaruh besar pada masa dinasti Umayyah.
Lingkungan inilah yang membentuk kefashihan bahasa Arab al-Mutanabbi sejak usia
muda.
Pada tahun 932 M/320 H, ketika
usianya antara 17-20 tahun, al-Mutanabbi dipenjara karena pada saat itu,
terjadi pergolakan politik. Dalam beberapa riwayat, diceritakan bahwa
al-Mutanabbi mengaku dirinya sebagai seorang nabi dan telah memiliki pengikut
yang banyak. Salah satu pengikutnya yaitu kaum Qarâmithah (kelompok
syi'ah ekstrem yang sering memberontak melawan kekhalifahan Abbasiyyah). Hal
ini memicu konflik hebat yang membahayakan stabilitas politik. Oleh karenanya,
gubernur saat itu, Lu'lu' al-Ikhsyidi menangkap dan memejarakan al-Mutanabbi.
Hingga akhirnya, setelah waktu yg cukup lama ia mencabut pengakuan kenabiannya.
Akan tetapi, julukan tersebut masih melekat pada al-Mutanabbi.
Al-Mutanabbi di kenal sebagai Raja
penyair Arab pada zaman Keemasan Islam. Ia terkenal karena kecerdasan dan
ketekunannya yang tajam. Dia bangga, berani, dan ambisius, serta menyukai
petualangan. Beliau bangga akan identitas Arabnya dan bangga pada dirinya
sendiri melalui puisi-puisinya. Karya dan gaya bahasa puisinya dikenal dengan
gaya bahasa yang fasih, metafora yang unik, dan syair filsafat kehidupan yang
abadi. Puisinya yang terbaik berkaitan dengan pemerintahan, filsafat hidup, dan
deskripsi pertempuran. Al-Mutanabbi adalah seorang penyair yang kreatif, hebat,
dan produktif.
Pada tahun 324 H/936 M, al-Mutanabbi pergi ke Daerah Antākiyah
(Antiokhia) dan menjadi penyair di istana Sayf ad-Daulah al-Hamdani di Aleppo.
Hubungan keduanya sangat dekat. Ia turut mendampingi Sayf ad-Daulah melawan
kekaisaran Romawi. Melalui peperangan ini, lahirlah kasidah-kasidah yang
menggambarkan keberanian, kepahlawanan, dan semangat perjuangan. Syair-syair yang
dipersembahkan untuk Sayf ad-Daulah dianggap sebagai salah satu deskripsi
terbaik dari karya al-Mutanabbi. Namun, beliau mempertahankan kebiasaannya
untuk mendedikasikan sebagian besar puisinya untuk dirinya sendiri.
Setelah sekian lama menjadi penyair
Sayf ad-Daulah, al-Mutanabbi mempunyai ambisi untuk menjadi penguasa. Akan
tetapi, Sayf Ad-Daulah menolak keinginannya karena beberapa faktor. Di
antaranya, banyak pembenci dari kalangan istana Sayf ad-Daulah, serta hasutan
para pembenci al-Mutanabbi. Hasutan ini menyebabkan keretakan di antara
keduanya.
Lantas, al-Mutanabbi memutuskan
meninggalkan Sayf ad-Daulah. Maka, ia melanjutkan perjalanannya ke negeri Mesir
pada tahun 364 H/958 M dengan memiliki ambisi yang hebat, impian yang besar dan
harapan yang tinggi. Di mesir, ia menetap selama empat tahun. Dalam kurun waktu
tersebut, ia memuji Raja Kafur al-Ikhsyidi. Ia mendampingi Raja Kafur karena
dijanjikan jabatan kekuasaan. Namun, kenyataan berkata lain. Harapan yang
selama ini menjadi bahan bakar perjalanannya justru berubah menjadi sumber
kesedihan yang mendalam.
Dahulu, ia bagaikan bintang yang
bersinar sangat terang, bertindak layaknya seorang panglima yang menguasai
dunia. Namun dalam sekejap, al-Mutanabbi dijauhkan dari kepemimpinannya,
dicopot dari lencana dan tanda kehormatan, lalu dijebloskan ke dalam penjara
oleh Raja Kafur.
Saat al-Mutanabbi sengsara dan
menderita, pada tahun 350 H/962 M ia memutuskan untuk kabur dari Mesir menuju
Kufah (Irak) pada malam Hari Raya (antara 'Idh Fitri/Adha) dimana pada malam
itu penjagaan Raja Kafur terhadap dirinya sedikit longgar. Pada saat inilah, ia
menciptakan syair yang terdiri dari 30 bait untuk memojokkan Raja Kafur.
Kemudian, kasidah ini dikenal sebagai salah satu karya satir terkenal dalam
sejarah sastra Arab.
Al-Mutanabbi mempunyai banyak guru
yang sangat berpengaruh pada peran kesusastraannya, seperti Muhammad bin
Duraid, Ibnu Nastawaih, Abu al-Qasim Umar bin Saif al-Baghdadi, dan lain-lain.
Beliau mewariskan karya yang sangat terkenal hingga saat ini. Karyanya ialah
Diwan al-Mutanabbi kumpulan kasidah mahakarya terbaik dalam kesusastraan Arab,
dan juga sebuah syair untuk Sayf ad-Daulah yang terdiri 46 bait.
Al-Mutanabbi dibunuh pada tahun 353
H/965 M oleh Fatak Al-Asadi, yang merupakan paman dari Dubba bin Yazid
Al-Asadi, yang disindir oleh al-Mutanabbi dengan sebuah puisi yang sangat
satir, berisi kata-kata yang kejam, dan banyak mengandung penghinaan terhadap
kehormatan keluarganya.

Posting Komentar