Al-Mutanabbi, Sang Penyair Masyhur pada Masa Keemasan Islam

Daftar Isi

Mutanabbi

Oleh: Muhammad Ihsan Muttaqin Jufri

Kekhalifahan Dinasti Abbasiyyah adalah panggung peradaban Islam yang sangat terang di mata para ilmuwan dan tokoh sejarawan. Di mata para ilmuwan, zaman itu adalah sebuah zaman kemajuan dan berkembangnya ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Bahkan, di zaman ini tercipta pusat sains dunia raksasa yg berisikan semua jenis ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya. Juga, dalam penglihatan para tokoh sejarawan, zaman Keemasan Islam ini tampil dengan tokoh-tokoh berlian dan permata. Maka dari itu, zaman ini di kenal dengan julukan "The islamic Golden Age".

Kita mendapati dalam catatan sejarah, setiap zaman memiliki ciri khas masing-masing yang disebabkan berbagai macam aspek. Kekhalifahan Abbasiyah adalah zaman di mana munculnya para ahli sastra dan ahli penyair, yang sangat amat mumpuni dalam bidangnya. Salah satu penyair yang terkenal dan terhebat adalah al-Mutanabbi.

Al-Mutanabbi lahir di keluarga sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai penjual air keliling, sehingga ia selalu dipanggil dengan sebutan Abd al-Saqa’. Ibundanya seorang Hamdzanniyah yang nama dan profesinya asing sehingga tidak satupun orang mengetahuinya. Akan tetapi, Al-Mutanabbi tetap memiliki tekad yang kuat dan semangat yang hebat, yang menjadikan dirinya dikenal sampai zaman ini.

Nama aslinya ialah Abu Thayyib Ahmad bin Husain bin Murrah bin Abdul Jabbar al-Ju'fi al-Kindi al-Kufi, lahir pada tahun 915 M/303 H. Al-Ju'fi nama dari kakeknya, Ju'fi bin Sa'ad. Sedangkan al-Kindi al-Kufi berasal dari nama kampung kelahirannya yg terletak di Kufah (Irak). Yang menarik, al-Mutanabbi tidak pernah menggunakan nama keluarga atau nama kampung untuk panggilannya.

Pada masa kecil, al-Mutanabbi memiliki banyak ambisi sehingga dia dapat menghafal Al-Qur'an dengan kekuatan hafalan yang ia miliki. Ia memulai menulis sebuah puisi saat masih kecil. Al-Mutanabbi menggubah puisi pertamanya saat di umur sembilan tahun. Beliau juga dikenal gigih dalam menuntut ilmu. Ia mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair dari orang-orang suku pedalaman Arab. Menjelang umur 16 tahun, dia hidup berdampingan dengan Bani Kalb, salah satu suku pedalaman Arab yang waktu itu menetap di wilayah al-Samawah. Jauhnya wilayah tersebut dari pengaruh masyarakat luar dan tidak adanya campuran dari orang-orang asing membuat bahasa Arab yang mereka gunakan terjaga. Bani Kalb salah satu yang disegani oleh kaum yang lain. Bahkan mereka memiliki pengaruh besar pada masa dinasti Umayyah. Lingkungan inilah yang membentuk kefashihan bahasa Arab al-Mutanabbi sejak usia muda.

Pada tahun 932 M/320 H, ketika usianya antara 17-20 tahun, al-Mutanabbi dipenjara karena pada saat itu, terjadi pergolakan politik. Dalam beberapa riwayat, diceritakan bahwa al-Mutanabbi mengaku dirinya sebagai seorang nabi dan telah memiliki pengikut yang banyak. Salah satu pengikutnya yaitu kaum Qarâmithah (kelompok syi'ah ekstrem yang sering memberontak melawan kekhalifahan Abbasiyyah). Hal ini memicu konflik hebat yang membahayakan stabilitas politik. Oleh karenanya, gubernur saat itu, Lu'lu' al-Ikhsyidi menangkap dan memejarakan al-Mutanabbi. Hingga akhirnya, setelah waktu yg cukup lama ia mencabut pengakuan kenabiannya. Akan tetapi, julukan tersebut masih melekat pada al-Mutanabbi.

Al-Mutanabbi di kenal sebagai Raja penyair Arab pada zaman Keemasan Islam. Ia terkenal karena kecerdasan dan ketekunannya yang tajam. Dia bangga, berani, dan ambisius, serta menyukai petualangan. Beliau bangga akan identitas Arabnya dan bangga pada dirinya sendiri melalui puisi-puisinya. Karya dan gaya bahasa puisinya dikenal dengan gaya bahasa yang fasih, metafora yang unik, dan syair filsafat kehidupan yang abadi. Puisinya yang terbaik berkaitan dengan pemerintahan, filsafat hidup, dan deskripsi pertempuran. Al-Mutanabbi adalah seorang penyair yang kreatif, hebat, dan produktif.

       Pada tahun 324 H/936 M, al-Mutanabbi pergi ke Daerah Antākiyah (Antiokhia) dan menjadi penyair di istana Sayf ad-Daulah al-Hamdani di Aleppo. Hubungan keduanya sangat dekat. Ia turut mendampingi Sayf ad-Daulah melawan kekaisaran Romawi. Melalui peperangan ini, lahirlah kasidah-kasidah yang menggambarkan keberanian, kepahlawanan, dan semangat perjuangan. Syair-syair yang dipersembahkan untuk Sayf ad-Daulah dianggap sebagai salah satu deskripsi terbaik dari karya al-Mutanabbi. Namun, beliau mempertahankan kebiasaannya untuk mendedikasikan sebagian besar puisinya untuk dirinya sendiri.

Setelah sekian lama menjadi penyair Sayf ad-Daulah, al-Mutanabbi mempunyai ambisi untuk menjadi penguasa. Akan tetapi, Sayf Ad-Daulah menolak keinginannya karena beberapa faktor. Di antaranya, banyak pembenci dari kalangan istana Sayf ad-Daulah, serta hasutan para pembenci al-Mutanabbi. Hasutan ini menyebabkan keretakan di antara keduanya.

Lantas, al-Mutanabbi memutuskan meninggalkan Sayf ad-Daulah. Maka, ia melanjutkan perjalanannya ke negeri Mesir pada tahun 364 H/958 M dengan memiliki ambisi yang hebat, impian yang besar dan harapan yang tinggi. Di mesir, ia menetap selama empat tahun. Dalam kurun waktu tersebut, ia memuji Raja Kafur al-Ikhsyidi. Ia mendampingi Raja Kafur karena dijanjikan jabatan kekuasaan. Namun, kenyataan berkata lain. Harapan yang selama ini menjadi bahan bakar perjalanannya justru berubah menjadi sumber kesedihan yang mendalam.

Dahulu, ia bagaikan bintang yang bersinar sangat terang, bertindak layaknya seorang panglima yang menguasai dunia. Namun dalam sekejap, al-Mutanabbi dijauhkan dari kepemimpinannya, dicopot dari lencana dan tanda kehormatan, lalu dijebloskan ke dalam penjara oleh Raja Kafur.

Saat al-Mutanabbi sengsara dan menderita, pada tahun 350 H/962 M ia memutuskan untuk kabur dari Mesir menuju Kufah (Irak) pada malam Hari Raya (antara 'Idh Fitri/Adha) dimana pada malam itu penjagaan Raja Kafur terhadap dirinya sedikit longgar. Pada saat inilah, ia menciptakan syair yang terdiri dari 30 bait untuk memojokkan Raja Kafur. Kemudian, kasidah ini dikenal sebagai salah satu karya satir terkenal dalam sejarah sastra Arab. 

Al-Mutanabbi mempunyai banyak guru yang sangat berpengaruh pada peran kesusastraannya, seperti Muhammad bin Duraid, Ibnu Nastawaih, Abu al-Qasim Umar bin Saif al-Baghdadi, dan lain-lain. Beliau mewariskan karya yang sangat terkenal hingga saat ini. Karyanya ialah Diwan al-Mutanabbi kumpulan kasidah mahakarya terbaik dalam kesusastraan Arab, dan juga sebuah syair untuk Sayf ad-Daulah yang terdiri 46 bait.

Al-Mutanabbi dibunuh pada tahun 353 H/965 M oleh Fatak Al-Asadi, yang merupakan paman dari Dubba bin Yazid Al-Asadi, yang disindir oleh al-Mutanabbi dengan sebuah puisi yang sangat satir, berisi kata-kata yang kejam, dan banyak mengandung penghinaan terhadap kehormatan keluarganya. 

 

 


Posting Komentar